ut Love Story - Turi Production

Senin, 11 Februari 2019

Love Story



Hari itu aku sedang bermain bersama sepi yang entah berasal dari mana. Sambil berbaring malas kupandangi monitor androidku dan saling berkabar lewat chat. Alunan musik tertangkap radar pendengaranku membuatku sedikit terenyuh seolah ada sosok baru yang mengambil alih pikiranku tak lagi kuperdulikan pesan-pesan yang memenuhi ruang obrolan, kupilih mematikan layanan data ponselku. Tanganku bergerak menuju ruang bernama Galeri satu persatu folder kuintip isinya satu-persatu pula wajah-wajah kupandangi entah untuk apa aku masih samar hingga kudapati sebuah folder berisi kenangan tentang beberpa waktu yang lalu.

 Aku ingat hari itu tawaku masih lepas, hari itu masa depan bukan momok menakutkan, kuingat angin yang mengelus lembut wajahku dan membelai helai-heli rambutku yang kuyakini dulu belum setipis saat ini.

Dahulu, kemarin yang hanya dapat kuangkakan ini bukan kisah lebih tepatnya sejarah atau mungkin legenda. Tapi bukan itu pembahasanku kali ini lebih tepatnya tentang kisah yang sedikit menyenangkan, kuharap.

Sebenarnya ini kisah yang panjang hanya saja tak ada yang menarik jadi aku hanya ke inti permasalahannya saja. Entah karena dipicu oleh sepi atau buaiyan melodi tapi aku menyadari rasa ini sebenarnya bukan fiktif. Namun pengingkaran yang selalu menjadi tameng terkuatku membantah perasaan itu. Aku bangkit dari pembaringanku melangkah menuju pintu bercat coklat kuperhatikan pintu itu, ah ternyata terkunci akhirnya kupilih berdiri didekat jendela kusibakkan gorden merah hati hingga pandanganku dapat lolos dari ruangan itu yang pertama kulihat adalah pagar, kemudian rumah tetangga namun pemandanganku terhenti di jalan beraspal pemisah pagarku dan rumah tetangga. Ada kenangan yang mencuri perhatianku disana. Tapi bukan jalan yang itu tapi jalan lain yang sudah tak asing lagi. Jalan itu adalah jalan menuju tempat yang kusebut rumah. Dimana ingatanku selalu akrab dengannya udaranya, iklimnya, airnya bahkan hingga kicauan burungnya ada dalam ingatanku.

Masih kuingat bau keringat yang bercucuran di siang hari, ditusuk dingin malam, dibangunkan kicau nyaring burung mungil yang selalu bertengger d pohon akasia, masi kuingat rasanya goresan-goresan yang diciptakan ranting pada tubuhku saat menyusupi hutan, dan masih kuingat rasa bahagia saat menemukan pohon buah jambu batu yang lebat dan matang, masih kuingat rasanya berlumba di padang luas mengembala sapi, masi kuingat serunya mencari ikan lele bertarung dengan lintah disawah ataupun mencari kepiting disungai, berlari di tengah huja, terpeleset batuan sungai, bermalas-malasan disawah. masi kuingat pertengkaran-pertengkaran kecil dengan kakakku bahkan suara tangis adikku yang peca karena ulahku.

Kuingat sakitnya saat terjatuh dari pohon coppeng, rasanya teriris sabit, menabrak pagar karena sepeda yang tidak berem tangan dan tertindih motor yang saat belajar di lapangan yang sama tidak ratanya. Dan juga senyum mamaku yang tak pernah kudapati meninggalkan wajahnya yang tampak tua dan lemah namun tegar itu.

Ah tiba-tiba kenangan itu berkeliberan dalam memoriku masih banyak yang ingin kutulis namun aku hanya menulia kisah bukan buku Novel. Al
Kenangan-kenangan itu menyadarkanku aku adalah putri mamaku yang mungkin merindukanku dan  aku adalah anak kampung yang bahagiah. Aku terlalu lama berbohong aku ingin mengatakab
"Aku rindu rumah" itu saja tidak lebih.
#lovestory

Penulis: Karmila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar