ut Kelemahan dan Kekuatan Generasi Millennial - Turi Production

Senin, 13 Agustus 2018

Kelemahan dan Kekuatan Generasi Millennial



Generasi Millennial adalah mereka yang dilahirkan antara awal 1990 an sampai awal dekade 2000 an. Pada saat ini, mereka sudah berusia antara 13 tahun sampai sekitar 30 an tahun. Seiring dengan berjalannya waktu, generasi ini makin matang dan mulai memegang posisi dalam berbagai bidang pekerjaan. Ibarat sebuah kapal, kita sedang secara berangsur-angsur menyerahkan kemudinya kepada generasi ini. 

Pertanyaannya: sanggupkah mereka mengemudikan kapal melalui lautan dinamika dunia yang penuh gejolak, ketidakpastian, dan tantangan disana-sini? Sanggupkah mereka bertahan dan selamat dalam badai VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity)?

Sudah banyak yang ditulis tentang Generasi Millennial. Posting singkat ini hanya akan menyoroti sifat-sifat yang diduga kuat menjadi kelemahan dan kekuatan Generasi Milenial ini.

Secara singkat, kekuatan Generasi Milenial bisa dirangkum dalam 3C :

1. Creative
2. Confident
3. Connected.

Generasi Milenial adalah generasi yang kreatif. Coba longok sekilas Instagram, Facebook atau Twitter. Banyak karya mereka yang jelas merupakan manifestasi dari daya kreativitas. Game Tahu Bulat yang dibuat oleh anak-anak muda dari Own Games di Bandung adalah salah satunya. Masih banyak karya lain yang bersumber dari pikiran kreatif anak-anak muda Generasi Milenial.

Selain kreatif, Generasi Milenial juga percaya diri (confident). Banyak anak muda yang dengan percaya diri mengenakan pakaian yang melambangkan jati dirinya tanpa terlalu perduli dengan omongan orang lain.

Yang terakhir, Generasi Milenial sangat terkoneksi satu sama lain. Ini juga merupakan akibat positif dari keakraban mereka dengan teknologi informasi. Melalui gadget, mereka menghubungkan mata dan pikirannya dengan berbagai informasi dari segenap penjuru dunia, mulai dari teman-teman dekatnya sampai ke pelosok Bumi yang membawa tren terbaru.

Setelah sedikit berbangga diri dengan ketiga C di atas, tiba gilirannya kita menyoroti kelemahan Generasi Milenial. Satu yang jelas sangat menyolok dan saya lihat sendiri adalah kurangnya kebiasaan membaca. Generasi Milenial jarang sekali membaca. Jangankan buku sastra atau pengembangan diri yang tebalnya sekian ratus halaman, untuk membaca koran saja mereka ogah. 

Beberapa di antara mereka berkilah bahwa mereka tetap membaca. Namun yang dibaca adalah berita-berita sangat singkat seperti LINE News atau sumber-sumber lain di dunia maya (cyberspace). Berita seperti ini sarat dengan iklan dan godaan lain yang cenderung mengalihkan fokus mereka dari berita utama. Lebih buruk lagi, isinya cenderung sensasional dan sudah diracik sedemikian rupa sehingga terkesan melebihi fakta yang ada. 

Ini membawa pada kelemahan Generasi Milenial berikutnya: cenderung tidak berpikir kritis dalam menerima informasi. Sikap tidak berpikir kritis membuat generasi ini menjadi sasaran empuk berita palsu (hoax). Jika sudah terprovokasi oleh berita palsu, mereka pun mudah dikendalikan oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan antar golongan, antar agama, atau antar kelompok masyarakat lainnya. Ujungnya pastilah bencana berupa konflik antar sesama anak bangsa.

Satu kelemahan lagi yang kerap disoroti tentang Generasi Milenial adalah mentalitas instan. Mungkin karena sudah terbiasa menerima sajian instan (uang dari ATM, klik klik dan usapan pada gadget yang langsung menyodorkan hasil), mereka juga cenderung ingin hasil yang serba cepat. Mereka cenderung mengeluh untuk suatu pekerjaan yang memerlukan upaya keras dalam waktu lama, jatuh bangun, atau gagal berkali-kali.

Mereka cenderung tidak tahan berada dalam lingkungan pekerjaan yang tidak segera membawanya ke tingkat yang lebih tinggi. Padahal, keberhasilan dan pengembangan diri bukanlah suatu proses yang instan. Seperti orang tua dan kakek neneknya pun, generasi ini juga harus melalui lintasan penuh bukit terjal dan jalur berkelok-kelok sebelum sampai pada hasil yang manis.

Akhirnya, satu kelemahan lagi yang juga sudah saya lihat sendiri: dangkalnya pemahaman dan singkatnya waktu berkonsentrasi pada satu hal. Karena hidupnya menjadi sangat terikat dengan gawai dan online games, Generasi Milenial cenderung sulit mendengarkan satu uraian panjang dari guru atau penceramah. Mereka ingin sesi yang penuh dengan variasi game dan cenderung menghindari kegiatan yang melatih konsentrasi jangka panjang.

Kalau Anda seorang Generasi Milenial, lakukan sedikit refleksi ini: sudahkah kegemaran kalian bersifat produktif dan kontributif terhadap sesama manusia, ataukah hanya bersifat konsumtif ? Traveling, wisata kuliner, bermake up, dance, fotografi, ngeband adalah kegiatan yang asyik dan menghibur, namun sifatnya lebih banyak konsumtif. Terpikirkah juga untuk melakukan pemberdayaan masyarakat lewat situs atau apps di gawai, atau menulis hal-hal positif di blog, atau merintis usaha kreatif, atau melakukan gerakan pelestarian lingkungan?

Jika sukses tetap bisa diraih dengan segala kelemahan di atas, baiklah. Kita akan legawa menyerahkan kemudi kapal kepada Generasi Milenial untuk mengarungi jaman. Tapi jika keberhasilan dan kebahagiaan ternyata masih memerlukan kerja keras, kegigihan, kerja sama, keluasan wawasan, dan kesabaran, masih banyak yang harus diperjuangkan dan diperbaiki oleh para Generasi Milenial.

Tulisan ini bukan sekedar mengkritik habis Generasi Milennial, namun memberikan wawasan yang harapannya bisa berimbang. Sudah saatnya generasi ini sadar dan bangga akan kekuatannya, namun juga mawas diri terhadap kekurangannya. Apapun itu, di dalam tangan dan pundakmulah, anak-anak muda, bahtera kehidupan dan peradaban ini kami serahkan. Salam sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar